Senin, 15 September 2008

RAJA DIMA (1)



Raja Dima Siregar, guru desa di pinggir hutan di Tapanuli Selatan, yang sebelumnya tak pernah diketahui dunia luar itu tiba-tiba diundang wakil presiden, menteri pendidikan nasional , dan sejumlah kalangan lain ke Jakarta. (So what gitu loh...?) Setidaknya, di tengah keputusasaanku atas "jurnalistik sampah yang tak berdampak", aku menemukan sedikit hiburan. Raja Dima adalah satu sosok orang biasa yang aku tulis, dan mendapat apresiasi publik.
Awalnya, aku menemukan Raja Dima, beberapa bulan lalu, tanpa sengaja saat aku hendak meliput tentang kerusakan hutan di kawasan register 40, Tapsel. Kerusakan hutan itu memang aku lihat dan jelas dilakukan oleh salah satu perusahaan. Bahkan, satu dusun telah dibakar dan penduduknya diusir oleh perusahaan itu. Tetapi, pengalaman pahit dalam dunia jurnalistikku sebelumnya, yang selalu kalah dengan pengusaha perusak lingkungan, mendorongku untuk mencari angle lain dalam menulis. Dua kali aku ke dusun itu, dan terakhir aku bermalam beberapa hari hingga mengenal betul pribadi dan kehidupan desa itu.
Aku putuskan, untuk mencari sisi humanisme sebagai framingnya. Keteguhan dan kesederhanaan seorang guru SD, yaitu Raja Dima yang rela menjadi guru satu-satunya di dusun itu dan harus mengajar anak-anak sekolah dari kelas 1 hingga kelas 6 memberi inspirasi untuk membuat tulisan yang berangkat dari sisi humanis. Dan dari framing itulah kemudian kisahnya menjadi serial tulisan di Kompas dalam beberapa edisi. Setelah sosoknya dan kondisi dusunnya dimuat di Kompas, berbagai telpon dan respon orang berdatangan.
Tak kurang dari istri wapres Jusuf Kalla, dirjen pendidikan dasar dari departemen pendidikan nasional, dll mengaku berempati dengan Raja Dima dan pendidikan di sana. Terakhir, suatu malam saat aku di Aceh beberapa waktu lalu, Raja Dima menelponku dan mengabarkan dia diundang ke Jakarta untuk bertemu Jusuf Kalla.
Terakhir, Raja Dima menelpon lagi dan mengatakan, dia mendapat sejumlah uang dan dijanjikan sekolahnya akan dibangun dan fasilitasnya diperbaiki hingga layak. "Tapi, perjuangan masih panjang, bang. Saya akan tetap seperti dulu," kata Raja Dima yang membesarkan hati..
Kerja memang belum selesai...


Beberapa Tulisanku di Kompas tentang Raja Dima dan kehidupan desanya..

GURU DENGAN BAYARAN SEADANYA
Oleh: AHMAD ARIF



Raja Dima Siregar (37) hanya petani dari desa. Namun, bagi warga Dusun Sigoring-goring, Desa Pangirkiran Dolok, Kecamatan Barumun Tengah, Tapanuli Selatan, dia adalah pahlawan.

Pahlawan, karena dia menjadi guru bagi anak-anak dusun dari kelas I hingga kelas VI hanya dengan bayaran 80 kaleng beras per tahun- satu kaleng beras setara dengan 16 kilogram. Selain itu, dia juga guru mengaji tanpa imbalan. "Saya melakukan ini karena merasa harus melakukannya. Saat itu anak- anak tidak sekolah selama tiga bulan karena tidak ada guru, saya tidak tega melihatnya," kata Raja Dima.
Sudah delapan bulan ini dia menjadi satu-satunya guru di SD Dusun Sigoring-goring. Semua pelajaran dari kelas I hingga kelas VI "diborongnya". Guru sebelumnya mengundurkan diri pada Oktober 2004 sehingga selama tiga bulan kegiatan belajar-mengajar di sekolah yang dibangun secara swadaya sejak tahun 1982 itu sempat
terhenti. "Sebenarnya sulit mengajar sekaligus enam kelas, tetapi warga tidak akan mampu membayar dua guru. Membayar satu guru saja kesulitan," ujarnya.
Lelaki empat putra ini bukan orang berpunya. Ia petani penggarap dengan lahan yang hanya menghasilkan 100 kaleng beras sekali panen, yang seperlimanya diberikan kepada pemilik sawah. Sejak dia menjadi
guru, istrinya menjadi tulang punggung yang mengerjakan sawah garapan. Sepulang mengajar, Raja Dima menemani istrinya di sawah.
Rumahnya sangat sederhana. Di rumah panggung dari papan kayu itu hanya terdapat dapur dan ruang serba guna yang menjadi tempat tidur, makan, dan menerima tamu. Tak ada kasur, hanya tikar dari rotan yang digelar saat ada tamu atau ketika ada anak-anak mengaji. Hewan ternak yang dimiliki keluarganya berupa dua ayam kampung yang kini beranak 15 ekor.
SD Sigoring-goring berada di pedalaman, diapit hutan register 40 Tapsel, perkebunan sawit milik PT PN II dan sejumlah perusahaan sawit swasta, serta hutan tanaman produksi yang dikelola PT Raja Garuda Mas, rekanan PT Toba Pulp Lestari. Dusun itu dihuni 40 keluarga atau 285 jiwa, terpencil dari dusun lain, tak terjangkau listrik, apalagi telekomunikasi.

Tergilas balok
Setamat dari madrasah aliyah di Binanga tahun 1988, Raja Dima merantau ke Pekanbaru untuk mencari kerja. Namun, ijazahnya tak laku sehingga setelah satu bulan terlunta-lunta di perantauan, Raja Dima akhirnya menerima pekerjaan sebagai salah satu pengangkut kayu dari perusahaan pembalakan liar. "Saya harus menyeret balok kayu dari hutan. Terkadang diameternya satu meter dan panjang empat meter. Satu hari bisa mengangkut paling banyak tiga kubik kayu, dengan bayaran Rp 13.000 per kubik yang dibagi delapan orang, sejumlah anggota kelompok saya," katanya.
Memasuki bulan ketiga, kaki kiri Raja Dima hancur karena tergilas balok. Selama dua tahun, Raja Dima mendapat perawatan di salah satu rumah sakit di Padang, Sumatera Barat. Pengalaman itu menyadarkan Raja Dima bahwa hidup jangan merusak alam dan harus berguna bagi orang lain.
Sepulang dari perawatan, Raja Dima menetap di dusun sebagai petani. Pen baja yang ditanam di kakinya hingga kini menjadi penyangga tubuhnya yang terbebani kerja keras. Sesekali, Raja Dima juga ke hutan mencari rotan atau berburu ayam hutan.
Setahun kemudian Raja Dima menikahi Kholimah Hasibuan, gadis tetangga desa. Hari-hari dilalui keluarga Raja Dima dengan ke sawah, ke hutan sesekali, dan ke pasar tiap pekan. Hingga kemudian, pada tahun 1995, ayahnya yang menjadi guru mengaji meninggal dunia. Anak keempat dari lima bersaudara ini diberi amanat untuk meneruskan mengajar anak-anak membaca Al Quran.
Sejak itu, kegiatan Raja Dima bertambah. Ia pun kian dekat dengan jiwa anak-anak yang meramaikan rumahnya tiap malam. Maka, ketika guru sekolah satu- satunya di dusunnya mengundurkan diri, Raja Dima
menerima tawaran menjadi guru. "Saya akan jadi guru selama masyarakat masih menginginkan saya," ujarnya.
Bagi murid-muridnya dan orangtua murid, Raja Dima dikenal sebagai guru yang penyabar. "Dia bisa mendidik anak dengan sabar. Dan yang penting, dia mau jadi guru dengan bayaran seadanya," kata Amsal
Rambe, orangtua murid.
Ia menjadi guru di tengah wilayah yang terus didesak untuk perluasan perkebunan kelapa sawit. Katanya, tanaman karet warisan orangtuanya di tanah adat Desa Pangirkiran Dolok sebanyak 200 pohon musnah dibakar oleh perusahaan perkebunan nasional yang hendak memperluas kebun sawit di kawasan itu. Dalam pembakaran itu, 20 rumah warga Dusun Sibenggol-dusun terdekat dengan Sigoring-goring-ikut dibakar. Masa depan suram anak-anaknya menggelisahkannya

Tidak ada komentar: